Senin, 11 Januari 2016

Trie Utami ft Utha Likumahua
Mungkinkah Terjadi

Mana mungkin terjadi
Mana mungkin terjadi
Terpadu cinta kita berdua
Mana mungkin kudapat
Mana mungkin kau dapat
Diriku dan dirimu menjadi satu
Kau ada yang memiliki
Aku ada yang memiliki
Walau kita masih saling menyayangi
Kau disana, aku disini
Satu rasa dalam hati
Namun hanya kau yang kusayangi
Mungkinkah terjadi
Oo adakah mentari pagi
Datang menyinari diri
Katakanlah haruskah cinta mesti terbagi
Manakah mungkin kudapat
Manakah mungkin kaudapat
Terpadu cinta kita berdua, ooh
Kau ada yang memiliki
Aku ada yang memiliki
Walau kita masih saling menyayangi
Kau disana, aku disini
Satu rasa dalam hati
Namun hanya kau yang kusayangi
Mungkinkah terjadi
Kau ada yang memiliki
Aku ada yang memiliki
Walau kita masih saling menyayangi
Kau disana, aku disini
Satu rasa dalam hati
Namun hanya kau yang kusayangi
Mungkinkah terjadi
Kau ada yang memiliki
Aku ada yang memiliki
Walau kita masih saling menyayangi
Kau disana, aku disini
Satu rasa dalam hati
Namun hanya kau yang kusayangi
Mungkinkah terjadi
--------------

Senin, 18 Mei 2015

Sekelumit Perjalanan Tim Pendamping Masyarakat Desa Cintaasih Cianjur


 TPM Koptan Cintamukti bersama penyuluh dan petani
 TPM Nanang Rustandi pertemuan rutin dengan koptan
 Pelatihan Koptan
 Tatap muka rutin TPM dan Petani
 TPM tinjau lahan Koptan Cintamukti
TPM Nanang Rustandi

Sekelumit Perjalanan
Tim Pendamping Masyarakat
Desa Cintaasih Cianjur
Oleh : *) Nanang Rustandi

Program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM) merupakan program pemerintah yang memanfaatkan lahan-lahan kritis agar lebih produktif sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat.
Perlu diketahui bahwa penanganan lahan kritis dan SDA merupakan permasalahan yang multi kompleks, hal ini terkait dengan penanganan lintas sektor mulai dari kehutanan, sumber daya air dan pertanian, serta kesetaraan pengelolaan sumberdaya alam mulai dari hulu, tengah dan hilir.
Penurunan kualitas (degradasi) sumberdaya hutan dan lahan serta sumber daya air semakin meningkat. Peningkatan ini ditandai dengan semakin bertambah luas lahan kritis dan peningkatan nilai kekritisan lahan di berbagai wilayah, baik di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan (areal milik masyarakat). Selain itu juga terjadi ancaman degradasi dan kekurangan air pada musim kemarau serta fenomena banjir pada musin hujan.
Deforestasi dan degradasi lahan dan hutan tersebut saat ini telah menjadi keprihatinan banyak pihak dan telah menimbulkan dampak negatif antara lain banjir, kekeringan, dan tanah longsor yang sangat merugikan masyarakat. Kondisi ini diperparah oeh belum terciptanya mekanisme insentif yang adil dan intergratif antara hulu-tengah-hilir dalam kesetaraan pengelolaan sumberdaya alam.
Pelaksanakan program pengembangan penanganan lahan kritis dan sumber daya air berbasis masyarakat, tidak hanya memperhatikan kepada aspek lingkungan hutan, tanah dan air saja , akan tetapi memperhatikan juga aspek masyarakat yang dalam lingkar lingkungan tersebut. Jika perilaku pelaku ekosistem tidak dilibatkan sejak awal dalam pengembangan penanganan lahan kritis, maka pemanfaatan sumber daya air yang melampui daya dukung lahan akan mengalami kerusakan dan terjadi degradasi lapisan tanah yang pada akhirnya dapat membahayakan fungsi hidrologi, produktivitas lahan, tata air dan dapat mempengaruhi sosial ekonomi sehingga pengentasan kemiskinan akan sulit untuk dilakukan.
Program ini menggunakan APBN dan sebagai leading sector-nya adalah Ditjen Bina Bangda Kemendagri.nPelaksanaan program tahun 2012 ini, di Propinsi Jawa Barat, dilaksanakan di dua kabupaten yaitu Kabupaten Kuningan dan Cianjur. Sebagai lokasi program, Kabupaten Cianjur ditempatkan di empat lokasi, Desa Cintaasih Kecamatan Gekbrong, Desa Sukamantri Kecamatan Bojongicung dan Desa Desa Salamnunggal dan Desa Karangnunggal Kecamatan Cibeber.
Sebagai pendamping hanya yang menjalankan fungsi sosialisasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi, pendampingan teknis dan non teknis, analisis dan motivasi hanyalah ban serep dari pelaksana utama yaitu petani penggarap. Pelaksanaan itu perlu ada kemauan dan komitmen bersama secara terpadu karena system utama pelaksanaan kegiatan ini adalah partisipatif.
Hasil Pendampingan Bulan Mei
Pada awal bulan Mei 2012 Tim Pendamping Masyarakat (TPM) menandatangani kontrak serta mendapatkan bimbingan dari konsultan Pembangunan Daerah Kementrian Dalam Negeri (Bangda Kemendagri) tentang Program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM), selanjutnya TPM melakukan konsolidasi dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Cianjur terkait dengan pelaksana teknis.
TPM juga bersosialisasi ke aparatur Desa Cintaasih Kecamatan Gekbrong serta pengurus inti Kelompok Tani semula diprakarsai bapak Oha Rusman. Untuk menemui para petani juga didampingi Koordinator Penyuluh Kehutanan Kecamatan Gekbrong Manuri dan Penyuluh Kehutanan Amar Romidin, S.SP, setelah melakukan sosialisasi selama dua pekan, akhirnya mendapat kesimpulan, jika kelompok tani yang ada sebelumnya dan dirikan pada tahun 2003 dipimpin Oha Rusman bernama Kelompok Tani Kuntul ‘Mekar Asih’, sulit untuk dikembangkan. Hal itu juga berdasarkan keterangan dari ketua Oha yang mengaku sudah tua, sehingga kelompok itu tidak aktif sejak berdirinya. Maka atas inisiatif Penyuluh Kehutanan dan TPM perlu dibentuk kelompok tani baru. Hasilnya para tokoh tani dan aparatur desa setempat memilih nama A. Hidayat (Pa Alit) untuk memimpin kelompok tani baru dalam program PLKSDA-BM di desa tersebut.
Hasil dari koordinasi, akhirnya A. Hidayat menyanggupi untuk memimpin sementara kelompok tani yang didampingi Sekretarisnya Cecep NM. Usai melaksanakan pertemuan pertama kelompok tani pada 20 Mei 2012 maka menyepakati pembentukan kelompok tani baru dengan nama ‘Kelompok Tani Desa Cintaasih ‘Cinta Mukti’.
Dalam perkembanganya, TPM bersama kelompok tani sementara melakukan pemetaan lahan dibantu Penyuluh Kehutanan, dan mendata vegetasi tanaman yang ada di lahan petani penggarap program.
Selain itu pada, Senin 21 Mei 2012 sekitar pukul 10.00 WIB berkunjung ke kantor Desa Cintaasih di Kampung Kuntul diterima oleh staf dan sekretaris desa. Tujuan kedatangan dari penyuluh kehutanan Dishut Kabupaten Cianjur dipimpin Deddy Muthalib, SP, Manuri dan Amar Romidin S, SP juga Tim Pendamping Masyarakat (TPM) Desa Cintaasih Nanang Rustandi. Setelah berbincang dan meminta data dari sekretaris desa dan staf, muncul data nama calon anggota kelompok hasil revisi dari data yang sudah ada. Begitupun tanggapan dari desa soal tugas pokok dan kegiatan desa di berbagai bidang sebagai desa calon penerima program PLKSDA-BM.
Usai mencocokan data, tim langsung menuju rumah Ketua Kelompok Pak Oha yang lokasinya tak jauh dari bale desa. Kunjungan ternyata hanya diterima istrinya dan menunjukan jika Pa Oha berada di ladang. Usai bertemu Pa Oha, langsung meminta untuk bisa bertemu dengan perwakilan anggota kelompok tani hutan desa. Tidak lama akhirnya menggelar pertemuan di rumah rangkai milik Anom Suganda. Calon anggota kelompok yang hadir diantaranya, Pa Oha, Mas Sodikin, Anom Suganda, Suhanda, Julaeha dan Komariah.
Dari hasil perbincangan santai muncul kondisi lingkungan sekitar hutan dan harapan ke depan. Gambaran umum aktifitas warga penggarap lahan desa diantaranya, belum adanya jenis pohon serta tumpang sari yang tetap bagi penggarap. Sebab, curah hujan dan kebutuhan secara ekonomi akan tanaman pohon diserahkan pada masing-masing penggarap. Adapun curah hujan dalam satu musim, satu bulan dan minggu tidak bisa diprediksi dan tidak menentu. Namun, musim tanam kebanyakan dimulai pada bulan pertama dan musim panen pada akhir tahun bulan pada bulan 11 dan 12. Kebanyakan saat ini warga menanam tanaman palawija seperti jagung, cabai, ubi  dan tanaman musiman lainnya. Tidak ada yang menaman padi huma. Khusus untuk jenis tanaman ubi dan cabai dimulai pada bulan Desember dan Januari, karena tanaman cabe harus memiliki curah hujan yang tinggi. Adapun panen dilakukan pada bulan Februari dan Oktober atau kurang lebih tiga bulan. Namun sebagian warga juga tidak bisa menentukan jenis tanaman yang ditanam karena sesuai kondisi cuaca.

LAPORAN PENDAMPINGAN TPM


LAPORAN PENDAMPINGAN TPM KOPTAN CINTAMUKTI DESA CINTAASIH KEC. GEKBRONG KAB. CIANJUR
PROGRAM PLKSDA-BM TAHUN 2012
MAKSUD DAN TUJUAN PENYUSUNAN LAPORAN ADALAH :
a.       Sebagai bentuk tanggung jawab dan tugas pendampingan yang dilakukan oleh TPM Program Tahun 2012.
b.      Sebagai bentuk penyampaian informasi kondisi lokasi program PLKSDA-BM pada periode tahun kedua.
c.       Sebagai bahan acuan dan rekomendasi pihak-pihak terkait dalam pengelolaan lahan kritis, khususnya pelaksanaan PLKSDA-BM di Kabupaten Cianjur.
RUANG LINGKUP KEGIATAN :
Ruang lingkup kegiatan pendampingan dalam rangka pemberdayaan meliputi beberapa aspek diantaranya :
1.      Aspek Kelembagaan :
Pada pendampingan periode kedua ini masih terus dilakukan penguatan institusi kelembagaan, penguatan kapasitas dan managerial organisasi, dan penguatan partisipasi anggota dalam organisasi.
2.      Aspek Sipil Teknis
Peningkatan teknis lahan, operasional dan pemeliharaan bibit. Selain itu pendampingan juga diarahkan pada penguatan aspek teknis perkebunan rakyat sebagai percontohan. Selain itu managerial produksi, pemasaran dan managerial usaha tani.
3.      Aspek Sosial Ekonomi
Terus mendorong dan memotifasi dengan merubah paradigma dan pola berpikir petani melalui penguasaan managemen usaha, peluang pasar dan akses modal, dimana diharapkan adanya perubahan prilaku petani yang asalnya pasif menjadi aktif dalam mengelola dan managemen usaha taninya.

Petani PLKSDA-BM Cianjur Panen Tanaman Musiman

SEJAK dimulai penanaman program ini, anggota kelompok sudah melakukan penanaman tanaman semusim, meski dalam pelaksanaan Program Penanganan Lahan Kritis Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM), khususnya di Kelompok Tani Cinta Mukti Desa Cintaasih Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur ini, tidak tepat sesuai jadwal.

Penanaman tanaman semusim baru bisa dilaksanakan pada bulan Desember 2012 akhir. Sebab, pada waktu penanaman tanaman pohon-pohonan dan buah-buahan juga sempat terjadi pemunduran waktu yang seharusnya pada bulan Oktober dan November 2012, namun akhirnya dilaksanakan pada akhir Desember 2012.

Pemunduran waktu ini juga berimbas pula pada pola tanaman petani yang tidak serempak. Ada beberapa petani yang sudah dari awal menanam dengan pola tanam yang sudah biasa dilakukan, seperti Jagung, Kacang Tanah, Cabe, Jahe, Kacang Panjang, Ubi Jalar, Singkong, Terung, Mentimun, Pisang, dan lain sebagainya. Sebab, prinsif petani tidak harus selalu mengikuti jadwal dari program, selain karena sudah jadi kebiasaan pendapatan sehari-hari dari tanaman semusim, juga karena dipastikan tak tepatnya waktu penerimaan bantuan bibit program PLKSDA-BM tahun 2012.